Batik Silabi, Kearifan Lokal Kota Metro yang Humanis

For every disability you have, you are blessed with more than enough abilities to overcome your challenges

(Life Without Limits – Nick Vujicic)

Nick Vujicic mungkin tidak pernah menyangka akan mengidap sindrom Tetra Amelia yang membuatnya terlahir tanpa tangan dan kaki. Namun, siapa bisa menebak. Kondisi Vujicic kelak justru menjadikannya inspirasi bagi khalayak. Penulis buku sekaligus motivator kelahiran Australia tersebut membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak sedikitpun membatasi ruang gerak dan pemikirannya. Singkat kata, Tuhan selalu menghadirkan kelebihan lain di dalam diri seorang penyandang disabilitas.

Para guru di Sekolah Luar Biasa (SLB) Wiyata Dharma Kota Metro, Lampung sudah tentu mengamini pengalaman hidup Nick Vujicic. Disabilitas bukan harga mati untuk menggerakan kreativitas. Ketidakmampuan justru melahirkan keunggulan pada alat indra yang lain, menciptakan insting, memberi stimulus untuk menghasilkan karya yang punya nilai jual. Produksi Batik Ciprat Silabi menjadi buktinya.

Sejak tahun 2012, para guru SLB Wiyata Dharma telah berjuang mengenalkan seni batik tulis kepada para siswa/siswinya. Lama-kelamaan, teknik membatik yang diajarkan kian berkembang. Hingga pada tahun 2014, terciptalah terobosan teknik batik ciprat yang lebih mudah dan praktis pengerjaannya.

Sesuai dengan namanya, batik ciprat dibuat dengan menciprat-cipratkan larutan malam pada beberapa jenis kain kapas. Malam diciprat-cipratkan dengan media seperti sendok, kuas, dan lidi. Keunikan lain yang membedakan batik ciprat dengan batik lain terletak pada warnanya yang terbilang mencolok. Pada Batik Silabi, warna-warna terang berpadu apik dengan motif dan corak Kota Metro. Motif-motif menyerupai Tugu Pena, Tugu Metrem, Siger, dan Pucuk Rebung, menjadi ciri khas yang melekat pada Batik Silabi.

Perlahan tapi pasti, hasil kerja keras para ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) ini berbuah manis. Batik Silabi mendapat dukungan dari berbagai pihak, tak terkecuali Pemerintah Kota Metro. Batik silabi kerap ditampilkan pada berbagai festival kesenian baik di tingkat kota, provinsi maupun nasional. Lebih mengesankan lagi, Batik Silabi dijadikan seragam yang wajib dikenakan oleh seluruh ASN di Kota berjuluk Sai Bumi Wawai tersebut. Permintaan akan Batik Silabi juga mulai berdatangan dari berbagai daerah, seperti Jakarta dan Riau. Pihak sekolah rupanya berinisiatif untuk memasarkan produk melalui online shop. Dengan begitu, jaringan penjualan Batik Silabi kian meluas.

Kesenian Batik Ciprat sendiri sejatinya telah berkembang di berbagai daerah. Ratusan kilometer dari Kota Metro, ada Desa Banyuasin di Purworejo, Jawa Tengah, yang memberdayakan penyandang disabilitas untuk memproduksi batik ciprat di bawah naungan Yayasan Difable Intelektual Restu Ibu (DIRI). Bergeser ke Jawa Timur, ada Desa Simbatan di Kabupaten Magetan. Desa ini juga memiliki kesenian Batik Ciprat ‘Langitan’ yang diproduksi oleh para penyandang disabilitas.

Namun demikian, Batik Ciprat Silabi sesungguhnya bukan hanya persoalan memberdayakan kaum disabilitas, kesenian ini lambat laun menjelma kearifan lokal di Kota Metro. Motif Batik Silabi dapat dikatakan sebagai reka cipta para guru SLB Wiyata Dharma, yang diintegrasikan dengan pemahaman budaya dan kondisi para siswa/siswinya. Produksinya pun tak berhenti pada satu angkatan tertentu, tetapi terus berjalan bak waktu.

Di sisi lain, proses pengerjaan Batik Silabi jadi implementasi model pendidikan yang menitikberatkan pada cipta, rasa, karsa, dan karya. Para guru SLB Wiyata Dharma sadar jika ABK punya kemampuan lain yang perlu dikelola lebih lanjut. Kemampuan tersebut harus diakomodasi, sebab bisa jadi ‘perpanjangan nafas’ mereka di masa depan. Pada akhirnya, produksi Batik Silabi akan ikut meningkatkan wawasan ekonomi para penyandang disabilitas dengan menjadikan mereka sebagai subjek yang mandiri.

Maka, urusan Batik Silabi bukan soal tindakan yang bersifat charity based belaka. Mengembangkan dan mendukung penuh Batik Silabi adalah bentuk penghapusan stigma terhadap penyandang disabilitas, dengan sedikit tambahan keinginan: merangkul dan mengarahkan nasib. Menggaungkan kesetaraan. Sebuah revolusi kecil untuk memanusiakan manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *