Ubarampe

Terbentur Terbentur Terbentuk

Hakikat hidup tak pelak sesederhana memandang kehidupan itu sendiri. Rantai peristiwa bersambung bak opera sabun akhir pekan mencipta masygul tak berkesudahan. Ironi kian menganga kala angan yang diperjuangkan tertunda dikubur khayalan. Kalau sudah begini, jalan panjang yang diperjuangkan terasa elusif. Sirna sia-sia macam senja yang hilang digusur iming-iming gemintang. Namun demikian, hidup rupanya tak melulu menyoal lara yang menyayat atma. Kejutan demi kejutan kadang datang menentramkan perasaan yang gamang, membikin lubuk terdalam serasa melayang.

Lebih jauh lagi, ketidakpuasan dan buaian bisa memunculkan hasrat ‘ingin ambil peran’ dalam berbagai hal. Kita (baca: termasuk saya) suka lupa dengan berbagai hal yang cukup esensial. Rintangan dan tantangan lebih menarik ketimbang arah dan tujuan. Muak dikesampingkan, harga diri dipertaruhkan. Semu mengungguli realita. Kekhawatiran lantas menyeruak, yang selalu ‘ingin ambil peran’ sebetulnya sedang berlomba tuk jadi sengsara bukan sempurna.

Sebagai insan ‘koleris-melankolis’ yang lebih sering mengedepankan judgement ketimbang facts, saya mengakui tamparan-tamparan Tuhan yang masih membekas hingga kini. Saya dibesarkan sebagai anak perempuan sekaligus anak tertua yang ‘dipaksa’ dewasa di dalam keluarga. Dalam pada ini, saya mencoba memahami kata ‘tertua’ dalam jutaan perasaan dan makna. Beruntung orang tua saya menyertai perjalanan keluarga kami dengan benda bernama ‘pelajaran dan kenangan’. Almarhum ayah saya sukses besar menjadi role model bagi kami. Sampai detik ini, saya bahkan menganggap almarhum ayah adalah stok kaum adam terbaik yang terakhir diciptakan Tuhan, betapa saya memuja dan mengagumi beliau dari berbagai sisi. Sepeninggal almarhum ayah, sudah barang tentu saya ikut-ikutan memegang kemudi ruang kontrol rumah tangga.

Sebagai bocah ingusan usia sepuluh tahun, saya dihakimi keadaan untuk membuat janji di depan peti mati. Permulaan yang manis tersebut berlanjut dengan tekat kuat yang lambat laun mulai mengalir ke sekujur tubuh. Hari kematian ayah menjadi titik awal saya menjadi manusia ambisius nan perfeksionis. Mulai hari itu, saya sadar akan tanggung jawab dan kewajiban yang kelak harus dipikul.

Saya bertekat untuk menjelma sempurna. Selalu menjadi murid teladan, selalu menang berbagai lomba, aktif organisasi, hingga punya tabungan dari hasil jerih payah sendiri adalah sekelumit pencapaian yang mati-matian saya upayakan. Hal-hal semacam inipun berlanjut hingga ke bangku kuliah. Saya melaju dengan sepenuh hati, dengan apa yang saya mau, mati-matian mengalahkan segala rupa tekanan yang makin memperumit pergulatan batin. Bagi saya, tidak ada hal yang lebih membanggakan selain menjadi anak yang punya tingkat kemandirian di atas rata-rata. Saya berprinsip untuk tidak bergantung pada siapapun dan tidak mudah memercayai siapapun. Saya memaksa jiwa dan raga untuk bekerja keras.

Tahun silih berganti, hingga tiba saat dimana kaki saya dipaksa berhenti berlari. Tidak semua hal yang saya perjuangkan berjalan sesuai dengan rencana. Melanjutkan pendidikan genap setelah dua tahun saya berlabel CPNS adalah salah satu hal yang tertuang dalam life plan Tugas KSPK saya saat kuliah. Saya memohon amin paling serius dari Tuhan untuk hal ini, menawarnya sebagai hadiah ulang tahun sekaligus pelipur lara atas kehilangan yang lain, namun sayang Ia menahannya. Saya merasa tidak diberi keadilan, sampai hati merasa peluh mengulum kesal. Perlahan tapi pasti, ketidakpercayaan diri mulai beringsut. Sudah tak terhitung lagi banyaknya kata ‘tidak kompeten’ meluncur untuk diri sendiri. Lama kelamaan saya mulai membiasakan diri untuk hidup berdampingan dengan pertikaian yang terus terjadi di dalam hati. Pada akhirnya saya menyadari, sesekali manusia perlu ditampar Tuhan. Saya menikmati tamparan Tuhan dengan berbagai cara, salah satunya adalah membahagiakan diri sendiri.

Perasaan dan luka memang diciptakan untuk hidup berdampingan dengan manusia. Namun demikian perasaan dan luka sejatinya manusia yang pegang kendali. Pada kondisi sesakit apapun, obat dari luka adalah luka itu sendiri. Sudah tak terhitung berapa kali saya terbentur, terbentur dan terbentur. Di titik ini saya sadar, rasa sakit akibat benturan itu hanya dapat disembuhkan dengan benturan berikutnya. Maka mengulum beban sendirian niscaya menjadi sebuah terapi tersendiri. Dalam pada ini, saya mengatur ulang kadar ekspektasi. Saya harus adil memperlakukan diri sendiri. Sikap-sikap ini lantas cenderung membuat saya terbiasa untuk menjadi pendengar, terbiasa untuk tidak menghakimi pilihan hidup orang, berkawan dengan segala rupa watak, dan terbiasa ‘melonggarkan perasaan’.

Saya pernah berujar bahwa makan di warteg, naik bis umum, bergaul dengan tukang parkir, berterimakasih pada pelayan, membaca buku dan menulis adalah banyak cara untuk menjadi humanis. Hal itu nampak memang benar adanya. Efeknya, saya jadi penikmat perjalanan.

Di sisi lain saya jadi sering menengok perjalanan hidup wanita-wanita di dalam keluarga saya. Jujur, saya sangat beruntung dikelilingi wanita-wanita kuat layaknya Ibu dan Kakak perempuan Ayah. Mereka jauh lebih sering terbentur dibanding saya. Ibarat shieldmaiden, mereka berdua adalah Lagertha dan Torvi yang mati-matian mempertahankan harga diri Bangsa Viking dan Kerajaan Kategat. Ibu saya adalah pemilik doa paling ampuh sejagad raya. Saya harus mengakui bahwa 90% keberhasilan saya diberkati oleh cucuran keringat, rintihan doa, dan darah ibu saya. Saya juga selalu teringat pesan kakak perempuan ayah saya: Tuhan tidak pernah memberikan apa yang kita mau secara instan. Tuhan tahu kita lebih dari diri kita sendiri. Ketertundaan rencana dan kegagalan adalah anak tangga yang membawa pesan dan sayang untuk dilewatkan. Maka berdamai dengan diri sendiri sudah barang tentu menjadi kunci.

Sedikit demi sedikit saya menyadari bahwa terbentur dan terbentur adalah proses menjadi terbentuk. Mengobati luka dengan luka adalah terapi. Jatuh, bangun lalu jatuh lagi adalah sebuah perjalanan. Maka bersedih tidak pernah dilarang asal secukupnya. Karena perjalanan hidup yang jauh, dibangun untuk bertaruh.

 

 

 

 

A Moment Capturer. Amateur Runner. Interest with Nature, Book, and Travelling.Loves coffee.

Lia Subekti

A Moment Capturer. Amateur Runner. Interest with Nature, Book, and Travelling.Loves coffee.

You may also like...

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *