Ubarampe

Relikwi

 Memutar ulang memori tentang novel ‘Sabtu Bersama Bapak’, membuat saya sejenak ingin berkontemplasi dengan sosok bapak. Mungkin khalayak masih ingat bagaimana Adhitya Mulya mengisahkan dua anak lelaki yang tumbuh dewasa berbekal didikan bapak yang telah tiada. Bapak hanya punya jatah hidup satu tahun. Vonis kanker yang dideritanya, membuat bapak harus berjibaku mengejar waktu untuk membuat video-video yang penting bagi kehidupan anaknya kelak. Bapak akhirnya mampu mewariskan seluruh nasihat dan pemikirannya ke dalam puluhan kaset video yang dibuatnya sebelum meninggal. Melalui upaya ini, bapak berharap anak-anaknya tumbuh tanpa kehilangan peran kepala keluarga yang akan mengajari mereka banyak hal tentang kebijakan hidup.

Melalui figur ‘bapak’, Adhitya ingin mengembalikan makna kehadiran kepala keluarga yang kerap ‘hilang’ di masyarakat. Terlepas dari banyolan segar yang tersaji melalui beberapa tokoh, saya lebih antusias memaknai tokoh ‘bapak’.  Betapa bapak begitu berarti dalam keluarga, betapa bapak menjadi tauladan  yang luar biasa bagi tiap anaknya. Melalui titik pemikiran sederhana ini, saya jadi menganyam benang merah di antara hubungan saya dan sosok almarhum papa

Almarhum Papa, adalah sosok kepala keluarga yang luar biasa di dalam keluarga saya. Sebagai anak pertamanya, saya bahkan berupaya merekonstruksi diri untuk memainkan peran papa. Papa adalah sosok yang tegas dan keras. Saya masih ingat bagaimana Papa memukul paha saya ketika saya ketahuan menendang kawan di bangku TK. Saya juga belum lupa ketika Papa mengumpatkan kata-kata kasar beberapa menit setelah saya kabur menaiki sepeda karena tak ingin memenuhi perintahnya. Dengan ini, saya tak menampik bahwa memang dua pertiga keberanian dan kepribadian saya dibangun dari sumpah serapah, omelan, pukulan, hingga tamparan papa.

Namun demikian, walaupun sudah ratusan bahkan ribuan kali saya ‘dididik’ papa, saya tak pernah mencuatkan frasa ‘papa jahat’. Papa bagi saya tetaplah role model yang tak akan pernah terganti. Kepribadian Papa bak sebuah cermin yang senantiasa tergantung di depan mata. Maka dari itu, saya tak pernah sulit menemukan idola dan panutan kehidupan, cukup menengok papa seorang.

Papa selalu mengajarkan kesederhanaan kepada seluruh anggota keluarga kami. Beliau selalu beranggapan bahwa tak perlu mengeluarkan uang untuk sesuatu yang muspra, cukup untuk memenuhi kebutuhan sahaja. Saya ingat bagaimana papa bersikukuh untuk tetap menggunakan ponsel Nokia 3310 tanpa rasa malu, padahal, Ia adalah pengemban salah satu jabatan tinggi di Perusahaan Jerman tempatnya bekerja. Papa juga punya style yang terbilang ngoboi. Walaupun boss, Papa hanya mengenakan kaos, celana jeans dan sepatu sport saat bekerja. Sesekali, papa meninggalkan mobil di rumah, lantas berangkat dan pulang bekerja dengan menaiki kendaraan umum. Papa memang luar biasa dalam hal ini.

Di sisi lain, Papa adalah sosok pria yang sangat menghormati nenek saya. Dari papa, saya belajar untuk lebih menghargai dan menyayangi mama. Ketika rezeki berlebih datang, satu hal yang pasti dilakukan papa adalah mengunjungi ibundanya. Begitu cintanya Papa dengan sang ibunda, bahkan beliau sampai meneteskan air mata saat jumpa nenek secara langsung. Yang saya pahami, jika seorang lelaki sangat menyayangi ibunya, perlakuan serupa pun akan Ia terapkan pula pada pendampingnya. Begitu pulalah perlakuan papa kepada mama. Saya tak pernah melihat mereka berdua beradu mulut. Ketika tiba di rumah, papa bahkan meninggalkan posisinya sebagai bos di kantor, papa menjadi pelayan bagi keluarganya.  Beliau bahkan pernah bergumam, “Kalau di kantor sih memang jadi bos, tapi di rumah, jadi pelayan untuk anak istri”.

Papa juga sosok yang sangat humoris dan selalu menomorsatukan keluarga.  Inilah yang paling saya kagumi dari sosok papa. Setiap hari pasti ada saja lontaran kelucuan yang memecah gelak tawa seluruh orang di rumah. Papa memang selalu pandai membangun suasana di antara kami. Setiap Sabtu dan Minggu, Papa selalu punya waktu untuk anak-anaknya. Entah mengajak berolahraga, pesiar, bahkan bermain monopoli dan playstation selalu jadi agenda rutin. Jikapun beliau berdinas saat weekend, saya bergegas menunggu beliau di teras depan pada pukul dua siang. Dan ketika papa sudah nampak di depan pintu pagar, saya pun langsung menghambur, berlari menyambut kepulangannya. Sebegitu dekatnya kami, sampai-sampai tetangga suka geleng-geleng melihat tingkah polah kami.

Hingga tibalah saatnya kami dan papa ‘dipisahkan’ oleh Tuhan, keceriaan yang tersaji di awal pun berangsur menjadi kehampaan. Maka, ketika saya sudah tak mampu menahan sungkuran rasa hampa tersebut, saya disibak oleh kerinduan yang teramat mendalam pada almarhum papa.

Saya rindu dengan lelucon-lelucon papa yang membuat saya tertawa  kala saya sedih karena didzalimi para kawan. Saya rindu celotehan papa yang terkadang mencuat dan menyambar begitu saja . Saya rindu dengan seluruh kalimat motivasi dan pujian papa yang sering dilontarkannya pada saya. Saya rindu pujian papa ketika berhasil memenangkan lomba story telling di tempat Kursus Bahasa Inggris dahulu. Saya rindu semua hal tentang almarhum papa, sangat teramat rindu.

Potongan bait ‘Puisi untuk Ayah’ karya Pramoedya Ananta Toer, mungkin bisa jadi penutup safaat singkat ini, sekaligus jadi buah tangan di surga sana,

Sebenarnya, aku ingin kembali, Ayah

Pulang ke teduh matamu

Berenang di kolam yang kau beri nama rindu

Aku, ingin kembali

Pulang menghitung buah mangga yang ranum di halaman

Memetik tomat di belakang rumah nenek.

Tapi jalanan yang jauh, cita-cita yang panjang tak mengizinkanku,

Mereka selalu mengetuk daun pintu saat aku tertidur

Menggaruk-garuk bantal saat aku bermimpi

A Moment Capturer. Amateur Runner. Interest with Nature, Book, and Travelling.Loves coffee.

Lia Subekti

A Moment Capturer. Amateur Runner. Interest with Nature, Book, and Travelling.Loves coffee.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *