Ubarampe

Pentingnya Melawan Psikologi Kesunyian

“Indonesia itu terlalu indah, makanya harus dijaga mulai dari darat, laut, udara sampai ke batas negara” seloroh saya saat menjawab pesan singkat seorang kawan jauh beberapa hari lalu.

Jujur dari hati paling dalam, guyonan ini bukan goda-goda belaka tetapi memang benar membawa alasan. Entah bagaimana, saya masih menyimpan takjub pada gugusan pulau-pulau di Nusa Tenggara Timur. Sulit rasanya beralih dari romantisme senja Labuan Bajo. Semilir angin Pulau Padar yang menampar pipi saja masih terasa hingga kini. Dengan ini saya akui: saya jatuh cinta kepada Indonesia. Namun demikian, saya tak dapat memungkiri bahwa risiko penugasan sering membuat cinta saya jadi keliatan semu. Berikut saya tuangkan sedikit untuk memperingati tepat satu tahun saya penempatan, dan untuk adik-adik almamater yang hendak memulai petualangan di dunia kerja.

Bilamana memutar kembali sajak Pegawai Negeri-nya Taufik Ismail, saya selalu terngiang dengan ungkapan  ‘jujur secara sejati‘ yang disampaikan secara lugas dan tersurat. Kejujuran adalah sumber mata air integritas, begitulah kurang lebih. Jujur yang membuat lentur tegang-kakunya prosedur. Pelayanan yang memudahkan urusan bukannya malah merpersukar-sukar.

Sesungguhnya, menjadi pegawai negeri bukanlah cita-cita yang saya muliakan. Tak ada keinginan untuk berkerumun di keran keuangan negara. Hanya saja, semua berputar seratus delapan puluh derajat selepas saya mengkhatamkan diri dari kampus plat merah di bilangan Bintaro. Hal ini menjadi semakin nyata manakala saya resmi bergabung dengan keluarga besar DJKN.

Dalam perjalanannya, mengabdikan diri sebagai pelayan rakyat seideal Pegawai Negeri-nya Taufik Ismail membuat saya mulai merasakan pahit manis dunia kerja. Memaksa diri berkompromi dengan idealisme yang tiba-tiba mengajak liar. Susah payah istikomah bertahan memegang apa-apa yang halalan thoyibban di atas segala ancaman dan godaan. Selebihnya, berdamai dengan rutinitas yang mulai naik level dari menjemukan jadi memuakkan.

Lama kelamaan, saya tersadar kalau hal-hal di atas menjadi tidak berarti jika dibandingkan dengan “psikologi kesunyian” yang menakut-nakuti saban hari. Risiko penugasan sudah pasti mengikis akidah primordialis yang barang tentu hinggap sedikit. Namun masalah keterlambatan adaptasi selanjutnya membenarkan perilaku ‘bersepi-sepi’yang bisa memicu bunuh diri. “Psikologi Kesunyian” ini pun lambat laun membawa efek domino yang bukan main menyebalkannya, kenaikan tingkat sensitivitas. Hal parah yang kemudian terjadi adalah tindak pengucilan terhadap diri sendiri. Saya bahkan pernah menganggap diri ini lolok karena tidak dilibatkan dalam hiruk pikuk petugas revaluasi yang kejar target sana sini.

Setelah sekian lama hati kecil saya akhirnya mampu memberontak. Entah wangsit apa yang melatarbelakangi perlawanan saya terhadap seluruh “psikologi kesunyian” yang sudah menjangkit sampai stadium akhir. Yang jelas, saya merasa ini bukan saya yang sesungguhnya. Saya lantas mencoba menceburkan diri dalam kawah kesibukan yang beberapa saat saya tinggalkan. Gagal! Saya masih kerap uring-uringan memandang lingkungan yang telah berubah. Perlahan demi perlahan, saya coba terima keadaan. Sampai akhirnya saya tiba pada tahap yang paling sulit untuk dilakukan, berlapang hati. Proses penerimaan inilah yang selanjutnya membawa saya pada titik legawa yang dapat melonggarkan pikiran. Saya mengubah cara pandang. Saya tak lagi merasa iri dengan kadar kesibukan orang lain. Saya menganggap kondisi saya saat ini sebagai kesempatan untuk mengembangkan diri agar dapat menaikkan nilai jual kelak. Saya mengembalikan akses kesukaan saya terhadap banyak rutinitas positif. Saya membuka kembali jejaring komunikasi yang sempat saya tutup sesaat karena ketidakpercayaan diri. Saya berjuang mati-matian mengembalikan bara semangat yang memadam selepas penempatan.

Dalam kalkulasi hidup, manusia memang tidak pernah merasa puas, maka dari itu penting memang kiranya menerima rencana sang pencipta (tak terkecuali penempatan). Saya sadar sesungguhnya Tuhan punya jalan keluar dari semua ketakutan tak jelas saya. Meminjam sajak Taufik Ismail, apabila di dunia ada tujuh macam keajaiban, fenomena semacam ini mestilah jadi yang kedelapan.

Setahun belakangan, saya mulai menciptakan berbagai cara untuk melawan “psikologi kesunyian”. Pada akhirnya, saya cenderung bisa menerima identitas saya sebagai kaum pekerja. Menikmati segala bentuk rutinitas produktif yang membuat saya menjadi makin baik.  Saya sepakat dengan Karl Marx yang menganggap manusia akan hidup hanya jika ia produktif, menguasai dirinya dengan tindakan untuk mengkspresikan kekuasaan manusiawinya yang khusus.

Sesungguhnya pekerjaan memang bisa jadi identitas jika didalamnya terkandung aktivitas pengembangan diri dan sosial. Seorang pekerja akan punya nilai tambah jika punya aktiva neraca personal sebagai hasil atas pengembangan diri dan sosialnya.  Begitu banyak kegiatan yang dapat mendukung hal tersebut, entah menggeluti hobi atau mempelajari hal baru. Manusia hendaknya memang menjadikan pekerjaan menjadi lebih bermakna.

Franz Magnis Suseno bahkan pernah menegaskan bahwa ada tiga fungsi kerja yakni fungsi reproduksi material, integrasi sosial, dan pengembangan diri. Yang pertama dengan bekerja, manusia bisa memenuhi kebutuhannya. Yang kedua dengan bekerja, manusia mendapatkan status di masyarakat. Ia dipandang sebagai warga yang bermanfaat. Dan yang ketiga dengan bekerja, manusia mampu secara kreatif menciptakan dan mengembangkan dirinya. Disini, saya  merasa perlu untuk memenuhi ketiga fungsi kerja tersebut.

Dari semua ini saya kembali menyadari betapa pentingnya melawan “psikologi kesunyiaan” agar tetap dapat disebut sebagai manusia yang otentik. Saya menyadari akan arti nilai tambah. Saya bahkan menggunakan seni baru untuk bersikap bodo amat pada celetukan orang-orang yang mencibir semangat saya. Yang perlu dilakukan hanya tetap menatap kedepan, menjadi produktif dengan tidak melawan norma, dan berani mengutarakan hal benar kepada siapapun. Selamat satu tahun penempatan DJKN 135!

 

 

A Moment Capturer. Amateur Runner. Interest with Nature, Book, and Travelling.Loves coffee.

Lia Subekti

A Moment Capturer. Amateur Runner. Interest with Nature, Book, and Travelling.Loves coffee.

You may also like...

1 Comment

  1. Kadang kita memang perlu menyepi, memelankan langkah, sejenak berpikir apa sesungguhnya raksasa di dalam tubuh kita.
    Tapi pastikan, kita terus melangkah (walau masih bimbang).
    Jangan mengeluh ke Tuhan kalau masalahmu besar. Tapi katakan ke masalah, kita punya Tuhan Yang Maha Besar, yang akan membantu kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *