Ubarampe

Meluruh Rindu harus Menjelma Sapardi

“Mungkin Aku keliru,

mungkin selama ini kau tak pernah merasa memelihara hubungan dengan-Ku,

tak pernah ingat akan percakapan Kita yang panjang

perihal topeng yang tergantung di dinding itu”

(Tiga Lembar Kartu Pos- Sapardi Djoko Damono)

Malam ini, saya tiba-tiba teringat akan puisi Sapardi Djoko Damono yang berjudul “Tiga Lembar Kartu Pos”.  Ini bukan kali pertama Sapardi mengaru sendu. Jauh sebelum kisanak mengenal ungkapan baper, Sapardi telah lebih dulu merapikan rima-rima perasaanya. Hal ini membuat gejolak hati tak pernah menuntunnya pada kesia-siaan, membuahkan “Hujan Bulan Juni” yang dipuja khalayak. Klimaksnya ketika Sapardi menulis “MencintaiMu harus menjadi aku” sebagai pembuktian atas ketakzimannya pada sang pencipta.

Menurut Auguste Comte, akal budi manusia hanya terbatas pada tiga hal. Hal pertama yakni menerima dan membenarkan gejala-gejala empiris sebagai kenyataan. Hal kedua yaitu mengumpulkan dan menggolongkan gejala itu menurut hukum yang menguasai mereka. Hal ketiga adalah meramalkan berbagai kejadian berdasarkan hukum tersebut dan mengambil tindakan yang dirasa perlu. Demikian juga dalam pergaulan sehari-hari. Manusia acapkali mempercayai ketidakpastian sebagai kebenaran. Asyik mencipta kekhawatiran yang hampir pasti tak terjadi dalam realita. Ujungnya jadi ugal-ugalan lengkap dengan tindak tanduk ala kadar.

Diamini atau tidak, perilaku seperti ini kerap membrutal saat kerinduan menyergap. Apa lagi bagi para perantau yang melekat erat hatinya pada kampung halaman, kepada segenap sanak  yang telah memberi penghidupan sepanjang hayat dikandung badan. Juga bagi para pejuang kehidupan yang setia melipat jarak melalui korespondensi masa kini.

Namun Eka Kurniawan pernah berujar: seperti dendam, rindu harusnya dibayar tuntas. Berkali-kali hal tersebut dipropagandakan, makin menanak pula didalam benak. Padahal rindu bukan melulu perkara yang dapat dijelaskan dengan nalar. Rindu tak bisa mempertegas sebuah keadaan yang sejatinya masih harus diselesaikan. Rindu tak bisa memelihara sebuah hubungan. Rindu tak bisa menjadi pengingat percakapan perihal aku, kamu, dan kita. Rindu hanya menyisakan siasat-siasat yang sulit dipecahkan maknanya. Rindu bahkan bisa menuduh “kun fayakun” hanya sia-sia.

Pada akhirnya, sebagai penganut sapardiisme, saya tetap yakin bahwa “meluruh rindu harus menjelma Sapardi”. Maka membaca ulang tiap bait puisi Sapardi menjadi hal yang relevan untuk membebaskan diri dari berbagai perasaan yang masih tertunda.

A Moment Capturer. Amateur Runner. Interest with Nature, Book, and Travelling.Loves coffee.

Lia Subekti

A Moment Capturer. Amateur Runner. Interest with Nature, Book, and Travelling.Loves coffee.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *