Kelana

Sibuk Terpukau di Pulau Padar

Kelopak mata saya belum terbuka sempurna ketika kapal yang saya tumpangi mulai mendekat ke Pulau Padar. Remang-remang masih mengerat fajar. Sisa angin malam Laut Flores masih sembribit menggoda nyawa.

“Mbak, ayo bangun! Siap-siap!” ujar seorang awak kapal.

Sontak saya mengintip gawai, masih pukul 04.30 WITA. Terlalu pagi.

“Ayo mbak, sebentar lagi kita trekking ke Pulau Padar!” teriak awak kapal lagi.

Saya mengurut lutut seraya memungut selimut. Perjalanan dari pulau sebelumnya –Pulau Kelor- begitu menyita lelah. Apalagi ombak membuat kapal bergoyang semalaman, memicu pening tak berkesudahan.

Saya dan beberapa kawan memang sudah sejak lama berkeinginan island hoping di Kawasan Taman Nasional Komodo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Berbekal program sailing boat dari sebuah biro open trip, kami pun sepakat menjelajah Pulau Kelor, Pulau Rinca, Pulau padar, Pantai Pink, dan Pulau Kanawa selama tiga hari. Beribu sayang, Gili Lawa absen dikunjungi karena masih dalam masa pemulihan akibat terbakar beberapa saat lalu. Sejatinya, Pulau Padar sendiri dapat ditempuh selama 2-4 jam dari Kota Labuan Bajo –titik awal pemberangkatan

Perlahan tapi pasti, hasrat untuk menyambut hangat matahari mulai muncul. Tak menunggu lama saya sudah siap dengan dandanan ala kadar dan kamera di tangan.

Kapal besar kami tidak bisa bersandar di Dermaga Pulau Padar karena laut yang dangkal. Alhasil, kapal harus menanam jangkar kurang lebih 500 meter dari Dermaga. Satu persatu dari kami menuruni tangga kapal, bergerak menuju sekoci yang telah disiapkan untuk mengantar ke pinggir Dermaga.

Bentangan bukit Padar yang menguning segera menyambut. Puluhan anak tangga menuju puncak Padar ikut-ikutan melambai minta ditaklukkan.

“Sudah anak tangga yang keberapa ini, ya?” lontar kawan saya sambil mengulum air ludah, menjaga keseimbangan enzim mulut dengan kering kerongkongan. Stamina tubuhnya memang tak bisa dikelabuhi.

“Semangat lah, masa sudah jauh-jauh kesini gagal sampai puncak!” pekik saya dari kejauhan, sembari menjaga keseimbangan napas yang terasa engap. Trail run training. Semoga average pace saya untuk event half marathon dua bulan lagi membaik.

Baru beberapa menit berjalan, saya mulai tersihir dengan pemandangan yang disajikan. Tiga lengkung garis pantai menyembul indah di sela bentangan bukit padar. Kapal-kapal yang merapat dekat dermaga terlihat bak ngengat. Kalah dibanding sajian panorama buah tangan sang maha esa.

Saya memutuskan untuk mendaki lebih tinggi lagi menuju puncak Pulau Padar. Sial, jalanan yang tersisa masih belum membaik. Memaksa sandal jepit saya bekerja keras menahan gesekkan sol dengan licinnya pasir. Pulau Padar saat bulan September memang sedang kering-keringnya, dan menggunakan sandal jepit saat trekking adalah sebuah kesalahan besar yang harus diakui.

“Ceu, fotoin saya di situ, ya! Kayaknya bagus, deh!” Celoteh salah satu kawan sesampainya di Puncak Padar. Saya mengangguk.

Amboi! Beruntungnya kami dapat mengabadikan seluruh mahakarya ciptaan Tuhan. Birunya langit, jernihnya air laut, pancaran sinar matahari, dan keindahan Bukit Padar yang berjajar seakan sepakat membentuk studio foto alami. Bahkan ketika pagi telah beranjak siang, kecantikan Pulau Padar tetap tak sedikitpun menyusut.

Sebagai salah satu Pulau terbesar dari tiga Pulau di Kawasan Taman Nasional Komodo –Selain Pulau Rinca dan Pulau Komodo- Pulau Padar memang punya pesona yang luar biasa. Ia tak malu-malu menampilkan harmonisasi alam yang membuat pengunjung berdecak kagum. Keindahan Pulau Padar betul-betul membuat kami sibuk terpukau. Cantik Paripurna, menjadikannya sebagai surga kecil yang harus dijaga agar tetap elok nan suci sampai kapanpun.

A Moment Capturer. Amateur Runner. Interest with Nature, Book, and Travelling.Loves coffee.

Lia Subekti

A Moment Capturer. Amateur Runner. Interest with Nature, Book, and Travelling.Loves coffee.

You may also like...

4 Comments

  1. random says:

    heuheuheuuuu :”((((

  2. mantep bu liaaaaa

  3. wah sangat indah sekali, jadi pengen kesana:(

    1. Indonesia memang luar biasa, ya 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *