Ubarampe

Sedu Sedan Mengais Fulus di Simpur

Represi dan policy harus diakui membawa dampak yang cukup sigifikan bagi para pedagang di Pasar Modern Simpur. Namun, kebertahanannya di antara berbagai pusat perbelanjaan baru, menunjukkan bahwa tempat ini masih menyimpan harapan sebagai ladang penghasilan.

Matahari telah meninggalkan separuh timur. Namun suara para pedagang Pasar Modern Simpur masih terdengar melaung. Langkah kaki saya terus bergerak memasuki mulut keramaian. Tak jauh dari tempat saya berdiri, mulai terlihat para pedagang menjajakan sederet gawai terkini dengan begitu semlohai. Saya beringsut menyusuri lorong keramaian lain. Pedagang yang berjualan di lantai atas nampak lebih kalem dan santun. Jarang terdengar pekik suara pedagang yang beringas menawarkan potongan harga.

Setelah puas berkelana di dalam, saya memutuskan untuk berjalan mengelilingi area luar pasar. Selain menjadi tempat pertaruhan kelangsungan hidup, Pasar Modern Simpur rupanya juga melahirkan banyak hal. Saya mengintip panasnya trotoar pinggir pasar yang pelan-pelan mulai menganggu stabilitas kondisi badan. Sesekali nampak para pejalan kaki memelan, sementara para pedagang kaki lima bergumul berdekatan. Deru mesin kendaraan bermotor tak jemu menyaru. Runyamnya kendaraan yang terparkir kian memaksa untuk menahan kernyit. Parkir liar, pikir saya.

Salah satu pedagang sepatu di Pasar Modern Simpur

Kondisi di atas sejatinya hanya sebagian kecil potret kondisi Pasar Modern Simpur saat ini. Di tengah menjamurnya berbagai pusat perbelanjaan baru di Bumi Sai Ruwa Jurai (sebutan untuk Provinsi Lampung), Pasar Modern Simpur masih bisa bernapas dan berdiri tegak di tengah masyarakat. Letaknya yang cukup strategis, yakni di jantung Kota Bandar Lampung, membuat masyarakat tak enggan tuk sekadar mampir dan mencuci mata.

Masyarakat tak bisa menampik, harga barang yang ditawarkan di Pasar Modern Simpur  memang terbilang menarik. Kebanyakan pedagang menjajakan dagangannya dengan harga yang sangat terjangkau untuk kalangan menengah ke bawah. Disinyalir, hal inilah yang menjadi senjata andalan untuk meraup keuntungan. Namun demikian, Pasar  Modern Simpur dulu, bukanlah yang sekarang. Harus diakui bahwa eksistensinya tidak lagi menjadi primadona. Demikian kurang lebih ungkapan salah satu pedagang sepatu di sana. “Hingga tahun 2010, omzet masih dapat dikendalikan, tapi seiring bertambah tahun, ada penurunan pengunjung. Mungkin karena makin banyaknya pusat perbelanjaan baru yang lebih keren”. Ungkap pedagang tersebut. Saya menjawab dengan senyum seraya menerawang jauh. Ramai tak melulu identik fulus, ia bisa saja menunjukan semu.

Harus diakui, represi dan policy memang membawa dampak pada kehidupan pedagang Pasar Modern Simpur. Namun, kebertahanannya di antara berbagai pusat perbelanjaan baru menunjukkan bahwa tempat tersebut masih menyimpan harapan sebagai ladang penghasilan. Hal inilah yang membuat para pedagang masih setia berjualan. “Kalau buat saya, tak apa-apa tetap berjualan disini (Pasar Modern Simpur) walaupun omzet menurun, asal halal, bukan uang korupsi” papar salah satu pedagang arloji di Kios “Sumber Waktu”. Saya jadi teringat pada prinsip Pramoedya Ananta Toer, “Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri, bersuka karena usahanya sendiri, dan maju karena pengalamannya” mungkin begitulah para pedagang di Pasar Modern Simpur mencoba bertahan, mengais rupiah di tengah persaingan

A Moment Capturer. Amateur Runner. Interest with Nature, Book, and Travelling.Loves coffee.

Lia Subekti

A Moment Capturer. Amateur Runner. Interest with Nature, Book, and Travelling.Loves coffee.

You may also like...

1 Comment

  1. dan hal inilah yang membuat para pedagang masih setia berjualan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *