Kelana Ubarampe

Menjelajah Kota Tua Bangkok di Rattanakosin

Menjelajah Asia Tenggara, khususnya Negara Thailand sudah menjadi keinginan saya sejak lama. Beruntungnya, saya bisa plesir  ke sebagian Kota Bangkok dan Pattaya pada Hari Raya Imlek lalu. Bisa dikatakan, saya cukup matang untuk mempersiapkan perjalanan ini. Sudah sejak beberapa minggu ke belakang saya mulai menyusun ittinerary, budget, hingga mencari tahu seluruh transportasi umum di Negara Thailand. Oh ya, perlu anda ketahui juga, Bangkok adalah kota yang nyaman dan aman bagi para backpacker sehingga anda tak perlu ragu untuk menjelajah kota ini.  Karena keterbatasan waktu, saya pun hanya berada di Thailand selama 4 hari 3 malam, dengan rincian 3 hari di Bangkok dan 1 hari di Pattaya.

Perjalanan saya dimulai pada 14 Februari 2018. Saya memilih berangkat ke Thailand dengan menggunakan maskapai Thai Lion. Pesawat berangkat pukul 07.00 dan tiba di Don Mueang Airport pukul 10.00. Untuk waktu, tidak ada perbedaan antara Jakarta dan Bangkok. Karena pesawat ini adalah maskapai Thailand, otomatis semua makanan dan minuman yang disediakan hanya dapat dibeli dengan mata uang bath. Semua pramugari yang bertugas juga berasal dari Thailand.

Mulai menemui Bahasa Thailand di Pesawat 🙂

Setibanya di Don Mueang Airport saya langsung menuju ke bagian imigrasi untuk melakukan pengecekan. Satu hal yang perlu diperhatikan, anda akan diberikan Departure-Arivval Card saat di pesawat. Kartu ini harus diisi dan diserahkan (hanya Departure Card saja) pada petugas imigrasi di Bangkok. Tips dari saya, bawalah pulpen agar anda tidak perlu ribet saat di imigrasi. Selesai masalah imigrasi, saya segera mengambil carrier di area bagage claim, dan bersiap menuju Kota Bangkok. Cukup mudah untuk menuju pusat kota dari Don Mueang Airport, anda cukup belok kiri (dari arah pintu keluar bandara) dan menunggu Bus untuk menuju tujuan.  Di bawah ini adalah sedikit ringkasan tentang bus-bus yang menuju pusat kota Thailand dari Don Mueang Airport,

  • Bus A1: Don Mueang Airport (DMK) – BTS Mo Chit – Bangkok Bus Terminal (Mo Chit Terminal)
  • Bus A2: Don Mueang Airport (DMK) – Victory Monument
  • Bus A3: Don Mueang Airport (DMK) – Pratunam – Lumphini Park
  • Bus A4: Don Mueang Airport (DMK) — Khaosan Road – Sanam Luang

Anda hanya tinggal menyesuaikan dengan lokasi tujuan saja. Biaya yang dikeluarkan juga tidak mahal, hanya 50 bath saja. Karena saya menginap di sekitar Khaosan Road (pusat para backpacker dari seluruh dunia), saya memutuskan untuk menggunakan Bus A4. Perjalanan sendiri ditempuh kurang lebih selama 30 menit. Saya berhenti di Bus Stop dekat Khaosan Road dan melanjutkan dengan berjalan kaki. Di Thailand, semua bus berhenti di setiap halte yang telah ditentukan. Sangat berbeda dengan di Indonesia, dimana penumpang bisa minta turun di sembarang tempat. Saya menginap di Khaosan Art Hotel dengan tarif Rp226.00 per malam, untuk dua orang tamu. Kebetulan, saya menginap sekamar  dengan salah satu kawan, alhasil biaya hotel pun dibagi berdua.

Snow and Targaryen Ornament at Khaosan Art Hotel

Saya menyempatkan diri untuk jajan di Seven Eleven dan jajanan kaki lima untuk mengganjal perut. Maklum, sehabis ini kami akan menjelajah daerah kota tua Bangkok, Rattanakosin dan menghabiskan malam di Asiatique The Riverfront. Waktu menunjukkan pukul 13.00 saat kami berhasil check in hotel. Perlu diketahui juga, anda harus menyiapkan 500-1000 bath sebagai uang deposit saat check in. Namun tenang saja, uang ini akan dikembalikan ketika anda check out, dengan catatan semua barang di kamar hotel masih dalam kondisi baik. Saya memutuskan untuk beristirahat sejenak dan sholat. Pukul 13.45, Saya memulai petualangan dengan mengunjungi Grand Palace atau Wat Phra Kaew, salah satu landmark negeri gajah putih. Saya mencoba untuk naik tuk-tuk dari Hotel menuju Grand Palace. Tuk-tuk sendiri adalah kendaraan khas Thailand dengan bentuk menyerupai bajaj. Sopir Tuk-tuk menawarkan harga 100 bath tetapi saya tawar hingga separuh harga. Satu lagi tips , coba tawarlah ongkos Tuk-tuk jika ingin bepergian kemanapun. Anda harus memperhitungkan jarak dengan ongkos yang ditawarkan sang sopir.

Tuk-tuk Thailand

Jika anda ingin menghemat budget, masuklah ke dalam halaman kompleks Grand Palace saja. Di sini, anda bisa berswafoto atau sekadar menikmati pemandangan kuil emas dari kejauhan. Jika anda ingin menjelajah bagian dalam Grand Palace, anda harus membayar tiket masuk seharga 500 bath.

Pemandangan Grand Palace dari kejauhan

 

Suasana panas dan ramai oleh rombongan turis

Saya dan kawan memutuskan untuk membeli tiket masuk Grand Palace. Sayang rasanya untuk melewatkan kemegahan Istana Kerajaan Siam (sebutan Thailand di tahun 1782) tersebut. Sesampainya di dalam kompleks Grand Palace, panas menyengat langsung menyambut. Mungkin karena sedang Hari Raya Imlek , Grand Palace pun dipadati oleh rombongan turis asal Asia Timur, khususnya Tiongkok. Hampir di tiap sudut Grand Palace dipenuhi para turis. Satu tips dari saya, datanglah ke Grand Palace saat pagi hari atau sore hari.

Salah satu sudut Kuil

 

Salah satu pintu Grand Palace, penuh sesak oleh wisatawan

 

Setiap sudut Grand Palace yang selalu ramai

 

Chakri Maha Prasat (Royal Reception Hall) yang berarsitektur khas Eropa

 

Nuansa emas dimana-mana

 

Ornament khas Thailand

 

Wisatawan “mengintip” kediaman Raja Thailand dari balik pagar tinggi

Setelah kurang lebih dua jam puas mengelilingi Graand Palace, saya bergerak menuju Wat Pho. Anda cukup berjalan ke arah kiri jalan selepas keluar dari pintu gerbang Grand Palace. Berjalanlah sekitar 700 meter dan anda akan tiba di Wat Pho. Wat Pho sangat terkenal dengan Reclining Budha atau patung emas budha tidurnya. Anda cukup mengeluarkan uang sebesar 100 bath untuk dapat menjelajahi Wat Pho dan mendapatkan sebotol air minum gratis

Bagian kepala Reclining Budha di Wat Pho

 

Reclining Budha

Saya sempat penasaran apa maskud dari patung Budha yang seolah seperti tidur. Setelah mengubek dari berbagai sumber, patung budha tersebut sejatinya merepresentasikan Budha yang akan mengakhiri proses reinkarnasinya dan akan memasuki gerbang nirwana. Saat menjelajah Wat Pho, sesekali saya juga menemui para pengunjung yang sedang beribadah. Untuk itu, para wisatawan dituntut untuk berpakaian sopan dan tidak gaduh, karena tempat ini dipergunakan untuk sembahyang.

Patung-patung Budha di Wat Pho

Berhubung saya datang dua hari menjelang imlek, suasana persiapan hari raya imlek begitu kentara di Kompleks Wat Pho. Saya bahkan bisa menyaksikan pertunjukan barongsai di sana. Saya pikir ini adalah pertunjukkan yang khusus diperuntukkan untuk wisatawan, namun rupanya pertunjukkan ini disuguhkan kepada para biksu yang berada di komplek Wat Pho.  Satu hal yang perlu anda ketahui, para biksu di Thailand sangat dihargai.

Barongsai pun menghormati biksu

 

Persiapan Chinese New Year 2018 di Wat Pho

Puas mengitari Wat Pho, saya beranjak menuju Wat Arun (Temple of Dawn). Lokasi Wat Arun tepat berada di seberang Sungai Chao Phraya. Dari Wat Pho, saya berjalan sekitar 800 meter menuju Tha Tien Pier. Pier sendiri adalah tempat untuk naik boat yang akan mengantar wisatawan ke seberang sungai. Di thailand, boat  sendiri dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai sarana transportasi sehari-hari. Untuk  menuju Wat Arun, dikenakan tarif sebesar 4 bath.

Suasana di Pier 

 

Suasana di dalam boat yang penuh penumpang

 

Leaving Grand Palace

Setelah menyebrangi Sungai Chao Phraya kurang lebih 15 menit, saya tiba di Wat Arun. Tiket masuk Wat Arun lebih murah dibanding Grand Palace dan Wat Pho, yakni 50 bath.  Senja menyambut dan mengantar saya memasuki gerbang kompleks Wat Arun. Di pelataran halaman, nampak para remaja bermain alat musik. Di sisi  yg lain, terdapat juga anak-anak  yang menggunakan pakaian khas Thailand. Hal ini jelas jadi daya tarik bagi wisatawan. Tak sedikit dari mereka yang mengabadikan hal tersebut, termasuk saya.

Pertunjukkan musik di Wat Arun

 

Anak-anak Thailand

Hari kian beranjak sore, saya pun mengeksplore kemegahan Wat Arun. Kebetulan saya datang di saat yang tepat, sore hari. Pemandangan Wat Arun jadi lebih cantik di sore hari. Cuaca juga tak terlalu panas berhubung matahari mulai lingsir.  

Wat Arun dari kejauhan

 

Patung budha emas di Wat Arun

 

ornamen khas Thailand yang tersapu sinar senja

 

Wat Arun dari atas

 

salah satu sudut Wat Arun

 

Mengantar matahari pulang

Sejatinya, ada pasar souvenir di Kompleks Wat Arun. Barang-barang disini bisa dibeli dengan mata uang rupiah. Sayang, pasar tersebut sudah tutup menjelang sore. Lain kali, mungkin saya akan mampir lagi ke tempat ini. Kehangatan sinar senja dari balik celah  Wat Arun, menutup perjalanan singkat saya di Rattanakosin.

 

A Moment Capturer. Amateur Runner. Interest with Nature, Book, and Travelling.Loves coffee.

Lia Subekti

A Moment Capturer. Amateur Runner. Interest with Nature, Book, and Travelling.Loves coffee.

You may also like...

2 Comments

  1. Mantap! Lanjutkan taaannn….

    1. Semangat nulis tan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *