Ubarampe

Berbagi Cerita dalam “Indonesia Memanggil” Project

Apa yang terlintas dalam benak kalian jika mendengar istilah “sekolah ideal”?  Memiliki tenaga pengajar handal, laboratorium komputer yang memadai, atau perpustakaan yang nyaman, semua bisa jadi jawaban. Namun jika kita menengok ke beberapa daerah di pelosok Indonesia, bisa jadi semua hal di atas tidak mudah untuk ditemui. Hal inilah yang saya dapatkan ketika mengunjungi salah satu sekolah di Provinsi Lampung beberapa saat lalu. Pada 26-27 Januari 2017, saya berkesempatan untuk menjadi relawan  dalam acara bertajuk “Indonesia Memanggil”  di Madrasah  Tsanawiyah (MTS) Mathlaul Anwar Seribu.

MTS Mathlaul Anwar Seribu

Kegiatan Indonesia Memanggil sejatinya adalah bentuk kepeduliaan para profesional untuk berbagi inspirasi kepada para siswa di Indonesia. Kegiatan ini dimotori oleh teman-teman eks Kelas Inspirasi dari berbagai  daerah bekerjasama dengan para relawan dan Komunitas Jendela. Sebelumnya, kegiatan serupa  pernah dilaksanakan  di Wilayah Banten. Rangkaian acara  Indonesia Memangil  Batch Lampung dimulai pada tanggal 26 Januari 2017 dengan agenda penyuluhan dan bakti sosial untuk masyarakat Desa Gebang. Keesokan harinya, seluruh relawan berkesempatan untuk mengajar di MTS Mathlaul Anwar Seribu selama satu hari.

MTS Mathlaul Anwar sendiri  terletak di Desa Gebang, Kecamatan Padang Cermin, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung. Sebagai tambahan informasi, Kabupaten Pesawaran sendiri merupakan wilayah pesisir pantai yang memiliki banyak tempat wisata terkenal. Mulai dari Pantai Mutun, Pantai Sari Ringgung, hingga Pulau Pahawang, semua ada di Kabupaten Pesawaran. Bagi saya, sekolah ini memiliki fasilitas yang terbilang kurang memadai. Tidak ada perpustakaan apalagi laboratorium komputer yang dapat menunjang kegiatan pembelajaran. Hanya ada 6 ruang kelas, satu ruang kepala sekolah, dan satu ruang guru. Sejatinya a MTS Mathlaul Anwar  tidak berada dalam satu wilayah khusus sekolah.  Berbeda dari kebanyakan sekolah, lokasi  MTS ini berada di belakang MI dan MA Mathlaul Anwar, serta diapit  rumah-rumah warga. Tidak ada lapangan sekolah, mereka harus ke tanah lapang di sekitar pemukiman  jika mengikuti pelajaran penjaskes.

Ruang kelas di MTS Mathlaul Anwar
Ruang Kepala Sekolah
Ruang kelas MTS Mathlaul Anwar

Relawan “Indonesia Memanggil” terbagi menjadi tiga, yaitu mentor, tutor, dan dokumentator. Mentor bertugas untuk mendampingi para murid (termasuk saya),  tutor berkesempatan untuk memberikan materi di kelas, sementara  dokumentator mengabadikan berbagai moment keceriaan pada acara ini.

Sabtu pagi, sekitar pukul 06.00, seluruh relawan sudah bersiap ke sekolah dengan membawa properti ajar. Kami berjalan dari rumah  Pak Ruhiyat, salah seorang warga yang berbaik hati menampung para relawan di rumahnya. Waktu menunjukkan pukul 07.00, namun belum tampak para murid datang. Disini saya baru tahu, ternyata bel masuk mereka berbunyi antara pukul 07.30-08.00. Pukul 09.00 agenda “satu hari mengajar” pun dimulai. Acara dibuka dengan perkenalan oleh para relawan dan panitia, dilanjut dengan game sederhana, pembagian kelompok dan flashmob bersama.

Saya “terciduk” kamera saat flashmob

Sesi selanjutnya adalah mentoring dan brainstorming, sesi ini diserahkan kepada para mentor. Mentor bertugas untuk mendampingi satu kelompok dari awal hingga akhir kegiatan. Disini, semua nama kelompok menggunakan nama kota di Indonesia yang masih jarang dikenal. Hal ini bukan tak ada maksud. Para mentor diminta untuk mengenalkan nama daerah tersebut kepada para siswa. Tujuannya agar para siswa lebih memahami berbagai daerah di Indonesia. Pada kesempatan ini, saya bertugas mendampingi 6 orang siswa yang tergabung dalam Kelompok Dumai. Dumai sendiri diambil dari nama sebuah kota di Provinsi Riau.

Saya dan Kelompok Dumai

Sesi mentoring kelompok Dumai  dibuka dengan perkenalan dan membuat yel-yel. Saya kemudian mencoba  menjelaskan kepada mereka tentang Kota Dumai. Sesi dilanjutkan dengan brainstorming. Pada sesi ini, saya memulai sharring dengan para siswa di kelompok Dumai. Saya berusaha menggali lebih jauh masalah internal maupun eksternal yang menghambat kegiatan belajar mereka. Dari sekian banyak yang mereka ceritakan,  alasan ekonomi lah yang menjadi penghalang utama. Perlu diketahui, mayoritas masyarakat Pesawaran tergolong middle low. Rata-rata masyarakat Desa Gebang sendiri  adalah orang Sunda. Asumsi saya, mereka adalah para transmigran dari daerah Jawa Barat yang didatangkan ke Lampung. Namun demikian, saya masih melihat asa di mata para  siswa. Adik-adik ini rupanya memiliki cita-cita tinggi yang ingin mereka raih, ada yang ingin menjadi PNS, guru, bahkan dokter. Salut !

Sesi mentoring Kelompok Dumai

Selesai mentoring dan brainstorming, kami mengikuti battle games ngan kelompok lain. Terdapat 3 games yaitu, alcatraz (tebak ranjau), panjang-panjangan, dan gelas air. Di sesi alcatraz, siswa harus berhasil melewati 16 kotak persegi yang telah disediakan. Tantangannya adalah terdapat beberapa ranjau pada kotak tertentu yang tak boleh dilalui. Jika siswa menginjak ranjau, maka ia harus kembali ke kotak pertama. Game dilanjutkan dengan “panjang-panjangan”. Pada games ini, kami harus bertarung membentuk barisan terpanjang dengan semua benda yang kami kenakan. Kelompok Dumai berhasil menang melawan kelompok Dompu. Permainan terakhir yang kami ikuti adalah “gelas air”, dimana siswa harus berhasil memindahkan segelas air dari satu titik ke titik tertentu dengan tali rafia. Serunya, tali rafia tidak boleh dililit sama sekali. Sekali lagi, kelompok Dumai memenangkan permainan ini. Saya akui, kelompok dumai memang kompak dan bagus dalam bekerjasama.

Game alcatraz
Adu panjang dalam “panjang-panjangan”
Keseruan permainan “gelas air”

Rampung bermain, kami segera masuk kelas untuk mendapatkan materi pengetahuan tentang komunikasi dan teknik kebumian. Materi yang disampaikan relawan tutor disajikan dengan ringan namun tetap memberikan informasi baru kepada para siswa.

Kelas Komunikasi bersama Kak Violin

Dalam hal ini, tutor yang menyampaikan materi berasal dari berbagi kalangan, seperti salah satu rekan saya, Violin Ocarina, yang seorang pemandu wisata. Tutor akan memperkenalkan profesinya yang memiliki keterkaitan dengan materi yang akan disampaikan. Hal ini sebagai sarana untuk memperkenalkan profesi sang tutor dihadapan para siswa.

Waktu beranjak sore, tiba saatnya mengakhiri acara “sehari mengajar”. Para relawan membawa seluruh siswa menuju tanah lapang di belakang sekolah untuk melakukan closing. Kami juga mengumumkan kelompok terbaik, mentor terbaik, tutor terbaik, dan yel-yel terbaik.

Kelompok Best Team 2 bersama Kak Atika

Pada kesempatan ini, kelompok saya (read: Dumai) belum berhasil menjadi kelompok terbaik, namun saya tetap bangga dengan kekompakan mereka. Walaupun  memiliki keterbatasan ekonomi dan fasilitas, mereka tetap ceria dan menikmati acara ini. Sedikit intermezo, salah satu dari 6 siswa di kelompok Dumai, berceritaa pada saya bahwa ia harus bekerja paruh waktu di pabrik tempe sepulang sekolah untuk membantu keluarganya. Hal ini menjadi salah satu potret pahit kehidupan yang masih terjadi di negeri ini. Saya jadi ingat, beberapa saat lalu Pemerintah kita mewacanakan gerakan  full day school. Bagaimana jika ini benar dilaksanakan, mungkin siswa saya tidak bisa bekerja membantu keluarganya di Pabrik Tempe.

Rasanya agak miris jika melihat kondisi sekolah berlabel “madrasah” di Indonesia. Sebagaimana kita ketahui, belum ada RUU yang mengatur tentang Madrasah dan  Pondok Pesantren. Madrasah dan Pondok Pesantren memang berada di bawah kendali Kementerian Agama, namun nyatanya kita masih dapat menemui madrasah atau pondok pesantren yang kurang layak sebagai tempat pembelajaran. Bisa jadi, ini yang membuat  angka putus sekolah siswa Madrasah tidak sedikit. Padahal, Madrasah memegang elemen penting dalam penyebaran pendidikan keislaman. Jika sekolah seperti ini tidak diperhatikan oleh pemerintah, bukan mustahil jika digawangi oleh oknum-oknum tertentu yang dapat menyebarkan prinsip dan ajaran menyimpang.

Terakhir, saya ingin menyimpulkan bahwa permasalahan yang terjadi di kalangan masyarakat sekitar Desa Gebang bisa dikatakan kompleks. Kondisi ekonomi yang kurang memadai menciptakan berbagai problema. Ketidakpedulian terhadap dunia pendidikan merupakan salah satu yang kentara terlihat. Setidaknya dibutuhkan role model untuk menjadi contoh dan pemantik semangat bagi para siswa. Tak cukup disitu, masalah  ekonomi juga memicu tindakan kriminalitas dan pelecehan terhadap sesama maupun lawan jenis (read: seks). Sebagai contoh kecil, saya ikut merasakan bagaimana pemuda Desa Gebang melakukan cat calling ketika saya melintas di depan mereka. Semua ini, seakan menjadi problem holistik yang membentuk lingkaran setan. Butuh solusi berkesinambungan untuk memutus lingkaran tersebut. Setidaknya, walaupun kita telah sukses menjadi apa yang kita inginkan, ingatlah ada peran edukasi dan pengabdian masyarakat yang kita pegang seumur hidup, sebagaimana tri dharma perguruan tinggi yang dulu pernah kita kumandangkan.

A Moment Capturer. Amateur Runner. Interest with Nature, Book, and Travelling.Loves coffee.

Lia Subekti

A Moment Capturer. Amateur Runner. Interest with Nature, Book, and Travelling.Loves coffee.

You may also like...

2 Comments

  1. Lia ais says:

    Kamu keren!

    1. Semangat volunteering kakak lia 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *