Ubarampe

Menggauli Lembur

Jam dinding di ruang rapat merajuk menuju angka delapan. Suasana gedung terlihat lengang. Hanya terlihat dua petugas keamanan yang ceria nan setia berdiri di balik bilik informasi. Sementara langit Jakarta makin menghitam, menyimpan cakrawala untuk dihadirkan esok hari.

Nampak masih ada delapan buah komputer jinjing yang menyala terang. Enam belas mata masih terjaga, persis di depan deretan angka yang meliuk-liuk tak karuan. Sesekali terdengar bunyi “klethek-klethek” pertanda leher merengek minta dimanja.

“Ayo, mbak, mas, silahkan makan dahulu saja, sudah malam!” ujar salah seorang pegawai pada tamu-tamunya di ruang rapat. “Ayo, tidak apa-apa, silahkan makan dahulu saja, nanti bisa sakit, loh.” Kembali pegawai tersebut mengingatkan.

Para tamu di ruang rapat kompak mematikan komputer jinjing. Mereka pun segera melahap nasi, lalapan, dan ayam bakar yang disediakan. Kenikmatan tersebut sekaligus menutup pertemuan panjang pada hari itu. Selang setengah jam kemudian, para tamu bergegas kembali ke kantornya untuk melakukan absensi sidik jari sebelum pulang ke rumah masing-masing.

Sejatinya, lelah menghinggapi kerut kening para tamu di ruang rapat tiap kali mereka bercengkarama dengan lembur. Namun apa lacur, laporan keuangan semesteran telah melambai-lambai, menunggu hasil rekonsiliasi aset kontraktor kontrak kerja sama untuk segera dituntaskan.

“Ini baru membuat rekonsiliasi semesteran, kalau tahunan bisa lebih larut lagi” ujar salah satu tamu tersebut. Jam kerja bukan selesai pukul 17.00, namun tidak tak terbatas. “Pernah suatu ketika, kami pulang pukul 02.00 dini hari, untuk menyelesaikan rekonsiliasi, abdi negara, pantang pulang sebelum lembur” tambahnya berkelakar.

Rutinitas semacam ini mungkin menciptakan iba. Para pegawai yang lebih sering bercengkerama dengan lembur bisa jadi harus mengatur ulang jadwal “kehidupan pribadi” mereka di waktu malam. Entah mungkin, menunda tontonan opera sabun negara kuda hitam, atau mengundurkan niat untuk sekadar nempel di warung kopi terdekat.

Dengan demikian, kemungkinan lain yang terjadi adalah mengatur manajemen hablum minannas yang lambat laun kendur diinvansi waktu lembur. Mengembalikan intensitas waktu menelepon ibu yang tereduksi, menggali celah waktu lowong untuk menggaet “pepetan”, sampai sekadar menyapa kawan lama, semuanya patut menjadi agenda perbaikan harian.

Terkadang rindu jua tidak melakukan berbagai kebiasaan lama yang menjadi rutinitas. Namun nyatanya tak ada yang salah untuk mulai menggauli lembur. Lembur itu ibarat pasangan kekasih yang biasa diceriterakan dalam drama-drama Korea. Awalnya bermusuhan, lama-lama berdekatan, lalu berujung pacaran. Diyakini atau tidak, lembur bisa jadi membangun nikmatnya sendiri, entah cuma memberi sepercik rezeki atau bahkan nuansa baru dalam kehidupan mereka yang menjalani. Sampai tiba saatnya, dimana titik jenuh muncul dan ajakan jeda sejenak tak dapat ditolak. Disinilah mereka perlu paham jika passion dan relasi bisa sejenak jadi pelabuhan  sehingga mereka tersadar bahwa lembur sesekali harus “diselingkuhi” tak melulu “digauli”.

 

A Moment Capturer. Amateur Runner. Interest with Nature, Book, and Travelling.Loves coffee.

Lia Subekti

A Moment Capturer. Amateur Runner. Interest with Nature, Book, and Travelling.Loves coffee.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *