Ubarampe

Mudik: Mulih Ka Udik!

Arunika belum begitu menyemburat, namun saya sudah berdiri tegap di tengah hiruk pikuk keramaian peron Stasiun Pasar Senen. Beberapa menit kemudian, Kereta Fajar Utama yang menjadi pengharapan akhirnya tiba. Tak berselang lama, kereta pun langsung diserbu ratusan orang yang hendak ruralisasi tuk menyambut tahun baru hijriah. Para porter yang mengangkut berbagai barang segera bergerak dengan cekatan. Tak ketinggalan, para awak dan teknisis ikut bergegas memastikan si ular besi dalam kondisi prima sebelum diberangkatkan menuju Yogyakarta.

‘Mudik’ seakan menjadi sebuah berkah luar biasa yang masih bisa dirasakan sebagian besar masyarakat kita, dibalik keterbatasan hidup yang mungkin menggelayut. Mudik bukan hanya sebuah kebutuhan, melainkan bagian dari budaya orang Indonesia.

Bahkan, salah satu ustadz popular tanah air, dalam ceramahnya di kantor saya beberapa hari lalu sampai pernah berujar, umat muslim di Indonesia punya tiga waktu ‘Indonesia bagian puasa’. Minggu pertama, adalah saat meramaikan surau untuk salat tarawih, minggu kedua saat meramaikan pusat-pusat perbelanjaan untuk mengejar kortingan harga, dan minggu ketiga saat meramaikan ‘tempat mangkal’ moda transportasi untuk melakukan mudik.

Bicara budaya mudik, sejatinya tak cuma Indonesia yang berbondong-bondong melakukannya. Masyarakat negeri tirai bambu pun ikut-ikutan melakukan mudik menjelang tahun baru Tiongkok. Namun, lagi-lagi euforia mudik yang semudik-mudiknya hanya dapat dirasakan di Indonesia. Asumsi saya, tak mungkin jalan tol di Tiongkok padat merayap bak Brexit hingga memakan korban. Tak mungkin pula ada perjibakuan dalam hal mendapatkan tiket moda transportasi disana.

Mudik alias Mulih Ka Udik yang berarti pulang ke kampung halaman memang punya sejuta makna. Yang paling utama mudik sebagai upaya anjangsana alias silaturahmi dengan keluarga. Bisa juga silaturahmi ke rumah mantan kekasih atau ke calon kekasih? Terserahlah, yang jelas mudik punya andil dalam hal hablum minannas tersebut. Yang juga tidak boleh dilupakan, mudik sebagai sarana berbagi kebahagiaan dengan keluarga besar. Entah berbagi rezeki atau berbagi kabar gembira. Mungkin inilah alasan mengapa Gedung Yusuf Anwar sampai diramaikan oleh tiga ratus jamaah penukar uang pada jumat lalu. Dalam konteks yang lain, mudik pun jadi sarana muhasabah bagi jamaah mudikiyah sekalian. Terang saja, karena perlu kiranya menjadi pribadi yang lebih mulia pada tahun baru hijriah kelak.

Intinya bagaimanapun kita memaknai mudik, mudiklah dengan aman dan nyaman. Tinggalkan sementara segala masygul dan kegamangan yang sehari-hari hinggap di ibukota. Marilah mencari senyum dari kampung halaman. Jangan pula sampai lupa menunaikan kewajiban sebagai bagian dari anggota kelurga. Akhir kata, saya menutup senandika singkat seputar mudik ini dengan mengucap ‘Taqabbalallahu minna wa minkum, minal aidzin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin’  Selamat mudik duhai jamaah ‘pulang sabtu’ !

 

A Moment Capturer. Amateur Runner. Interest with Nature, Book, and Travelling.Loves coffee.

Lia Subekti

A Moment Capturer. Amateur Runner. Interest with Nature, Book, and Travelling.Loves coffee.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *