Drupadi: Sinisme Sang Poliandris

Drupadi: Sinisme Sang Poliandris

(Gambar cover Novel Drupadi oleh pengenbuku.com) Resensi buku Drupadi karya Seno Gumira Ajidarma “Apa kalian sudah lupa? Apakah kalian sudah lupa penghinaan Kurawa yang tiada tara? Aku telah bersumpah tidak akan menyanggul rambutku jika belum dikeramas dengan darah Dursasana. Apakah para Pandawa akan membiarkan rambutku terurai selamanya? Dimanakah  Bima yang telah bersumpah untuk menghirup darah

(Gambar cover Novel Drupadi oleh pengenbuku.com)

Resensi buku Drupadi karya Seno Gumira Ajidarma

“Apa kalian sudah lupa? Apakah kalian sudah lupa penghinaan Kurawa yang tiada tara? Aku telah bersumpah tidak akan menyanggul rambutku jika belum dikeramas dengan darah Dursasana. Apakah para Pandawa akan membiarkan rambutku terurai selamanya? Dimanakah  Bima yang telah bersumpah untuk menghirup darah Dursasana? Mengapa dia tidak bicara?  Aku Drupadi telah begitu setia dan begitu menderita bersama Pandawa, apakah aku ini tidak berarti apa-apa?— apakah aku harus menjadi laki-laki seperti Shikandi yang menunggu-nunggu saat pertempurannya dengan Bhisma?”

Sebait paragraf sinisme yang mengguratkan konstelasi kesedihan, mengurai satu dari sekian panjang perjuangan seorang dewi brahmana dalam buku ini. Paragraf tersebut juga menjadi bentuk perlawanan atas perilaku patriarki yang terepresentasi dalam novel sastra “Drupadi” ini secara frontal. Keinginan untuk merekonstruksi harkat dan martabat menyemburat dengan sangat jelas pada sosok Drupadi melalui keberanian tindak-tanduk nya. Sang Poliandris memang senantiasa dibayangi dengan kesengsaraan dan ketidakberdayaan pada suratan takdir. Namun demikian, Seno rupanya tetap ingin membawa sosok sang dewi Pancala pada glorifikasi peran yang utama dalam rumah tangga Pandawa. Narasi kesempurnaan membuat tokoh sentral Drupadi tampil berbeda dan menarik untuk disibak lebih jauh, terlebih dari sudut pandang feminisme.

Drupadi adalah buku karya Seno Gumira Ajidarma, penulis gaek yang menjelmakan sang tokoh sentral ke dalam “versi” nya sendiri. Drupadi versi Seno bukan menonjol karena bersuami pandawa lima, melainkan tak gentar membela hak asasinya dari tekanan kekuasaan. Seno tak ingin menampilkan amoralitas seksual yang muncul dalam memoar jawa pada umumnya, tetapi tetap tak dapat dipungkiri bahwa berdasarkan eksistensialisme Sarte, Drupadi tidak dapat menolak untuk dipertaruhkan.

Potret Dewi Drupadi dibingkai dalam kecantikan yang melebihi mimpi. Drupadi memang tak pernah dilahirkan. Ia diciptakan dari sekuntum bunga teratai yang sedang merekah. Meski  memiliki keelokan yang ‘indah takterperi’ , lantas tak menghindarkan Drupadi dari rintihan kelam. Kehidupannya tetap ditentukan oleh ketepatan tembakan panah para ksatria dan brahmana pada sayembara kerajaan. Hingga pada akhirnya, ketepatan bidikan Arjuna segera menyeretnya ke dalam kehidupan rumah tangga Pandawa. Sejak hari itu, Drupadi harus berbagi ‘sukma’ dengan Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa. Tak dapat dipungkiri, Paras cantik Drupadi dan kenyataan bahwa Ia bersuamikan Pandawa justru menimbulkan kebencian dan kecemburuan mendalam dalam diri para Kurawa. Yudhistira, sang raja agung berhasil dipermainkan oleh Duryudhana dan Dursasana di meja perjudian. Alhasil, Indraprastha, Hastina, bahkan Drupadi seluruhnya jatuh ke tangan Kurawa.

Sungguh nista bagaimana Kurawa tega memperlakukan Drupadi yang jelita dengan begitu kasar. Pasca kekalahan Yudhistira di meja perjudian, Dursasana menyeret paksa Drupadi dari ruang keputrian Hastina.

Suasana masih hiruk pikuk dan para Kurawa bersorak sorai ketika Drupadi meluncur seperti karung di atas lantai yang basah karena tumpahan arak ketika didorong sekuat tenaga oleh Dursasana dengan kakinya

“Menyembahlah kepada Prabu Hastina, anak pecundang Drupada!”

Kala itu, Pandawa benar-benar kehilangan kehormatannya. Atas nama ksatria mereka harus menerima segala penghinaan dan cerca, tanpa boleh marah Karena sebagai budak tanpa kemerdekaan mereka bahkan telah kehilangan haknya untuk marah apalagi murka. Drupadi hanya bisa meratap dan menahan sakit seolah sembilu telah menancap di dadanya. Drupadi ditelanjangi dan selanjutnya ‘digilir’ oleh satu persatu Kurawa di Balairung perjudian. Dalam penjabaran di atas, Seno tak sedikitpun meneksplorasi adegan seronok yang menyudutkan Drupadi di dalam bukunya. Fakta bahwa Drupadi pernah dipermalukan Kurawa sebagaimana dalam cerita Mahabaratha, tak terlalu mendapat penekanan. Hal tersebut lantas membuat kita berpikir bahwa penderitaan bukan menjadi  tujuan utama dalam penceritaan kisah Drupadi versi Seno

Setelah semua perlakuan yang diterimanya, Drupadi menjadi penentang budaya patriarki. Ia tak mau lagi berada dalam ‘kerugian budaya’ yang mengglorifikasi feminitas, yangmana bila menolak hal itu, ia akan mengalami kerugian-kerugian itu sendiri. Maka dalam pengasingan dan penyamarannya, Drupadi membela diri dengan bantuan para suaminya. Cukup jelas tergambar bagaimana Kichaka mati digilas Bima setelah mencoba memperkosanya. Tuntas pula dendamnya pada Kurawa, saat ia berhasil mencuci rambutnya dengan darah Dursasana. Sungguh, Seno menggambarkan Drupadi sebagai sosok yang begitu gigih menjunjung arti harga diri. Jika Resi Bhisma atau Karna atau Yudhistira berjiwa besar, Drupadi, tampil sebagai seorang permpuan yang menggunakan hak dirinya sebagai korban untuk melakukan pembalasan.

Namun demikian, bagaimanapun Drupadi membalaskan dendam demi harga dirinya, Seno berhasil membentuk peran Drupadi dengan baik. ‘Pengabdian yang sempurna adalah setia kepada peranan hidup kita, apapun peran yang kita mainkan’ begitulah selarik Kalimat yang melukiskan pengabdian lakon Drupadi di tengah cerita. Betapapun Ia makhluk yang tidak dilahirkan dari rahim seorang perempuan, kehadirannya bak cahaya gemilang yang mencerahkan kegelapan.

Begitulah Drupadi dicintai dan dihormati melebihi bidadari, karena begitu manusiawi. Kalau datang dan pergi Ia tidak melayang seperti bidadari, kakinya menapak bumi. Para perupa mencetak jejak kakiny, dan menjadikannya tanda mata bagi para pengunjung mancanegara.

Dewi Drupadi bukanlah perhiasan, melainkan sebuah keindahan. ‘Apalah arti Pandawa tanpa Drupadi’ lima lelaki itu tak akan mendapatkan kemantapan tanpa perempuan, dan hanya Drupadi yang mampu berbagi dengan penuh keadilan. Saking istimewanya, Seno bahkan tak mampu menganalogikan kehadiran seorang Drupadi dengan enambelasribu istri Kresna sekalipun. Dengan demikian, lakon Drupadi versi Seno mampu menunjukkan eksistensinya sebagai seorang perempuan yang berhak dan bertanggung jawab atas tubuh dan pilihannya. Pada akhirnya, ‘Drupadi’ berhasil membuktikan bahwa Kekuatan dan Keberanian dapat melawan dekadensi moral yang dianggap tabu. Andai Drupadi menjadi sosok nyata, Ia mungkin akan mengingatkan, bahwasanya hidup di dunia bukan hanya soal kita menjadi baik atau menjadi buruk, tapi soal bagaimana kita bersikap kepada kebaikan dan keburukan itu sendiri.

 

A Moment Capturer. Amateur Runner. Interest with Nature, Book, and Travelling.Loves coffee.

Lia Subekti
ADMINISTRATOR
PROFILE

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply

A Moment Capturer. Amateur Runner. Interest with Nature, Book, and Travelling.Loves coffee.

 

Style Selector