Resensi

Melawan Agnosia Kekerasan Seks dalam ‘hUSh’

Resensi film ‘hUSh’ karya Djenar Maesa Ayu & Kan Lume

Sejak peradaban jahiliyah, tak dapat dipungkiri bahwa masyarakat telah membentuk anggapan sebagai pembeda terhadap laki-laki dan perempuan. Sebagian besar orang masih menganggap laki-laki adalah golongan superior. Perbedaan psikologis dan kodrat biologis menjadikan perempuan sebagai warga kelas dua. Kondisi ini kian didukung dengan kultur yang lebih menjungjung hak laki-laki dibanding perempuan.

Tanpa tedeng aling-aling, perempuan mendapat cap lemah, tak berdaya, bahkan urusan seks pun dikata tabu.  Persoalan terakhir bahkan mencipta ketakutan perempuan pada kondisi seksualitasnya sendiri. Perempuan dibiarkan tak leluasa melindungi sekujur tubuhnya. Hingga kerap kali mereka menjadi objek dari pelecehan dan kekerasan seksual. Lantas, perempuan kembali jadi korban tatkala perkara ini hanya dianggap angin lalu. Berangkat dari kenyataan ini, Djenar Maesa Ayu bersama Kan Lume (Sineas Singapura) kembali mengoyak tabu, menolak agnosia terhadap pelecehan dan kekeran seks pada perempuan melalui ‘hUSh’. Film tersebut menjadi karya mockumentary terbaru Djenar di tahun 2016, setelah sebelumnya sempat menarik perhatian dengan ‘Nay’ dan ‘Mereka Bilang Saya, Monyet!

Sedari menit awal, ‘hUSh’ telah menyampaikan penolakannya terhadap inferioritas perempuan. “Mayoritas laki-laki melihat perempuan sebagai objek seksual belaka. Perempuan milik lelaki, dan ketika hak milik telah didapat, lelaki bebas melakukan apapun”demikian cuplikan salah satu narasi prolog ‘hUSh’. Melalui narasi ini, Djenar tegas menolak anggapan bahwa perempuan adalah objek seksual.

‘hUSh’ sendiri sejatinya meceriterakan kehidupan seorang public figure bernama Cinta (diperankan Cinta Ramlan). Cinta merasakan kejenuhan pada rutinitasnya di Jakarta sehingga memutuskan untuk plesir ke Lombok dan Bali. Selama perjalanan inilah, pahit getir dan kisah kasih Cinta terdokumentasi.

Cinta adalah sosok yang menjunjung tinggi feminisme. Atas nama kemerdekaan, ia merasa bebas dengan tubuhnya, tak pula sedikitpun canggung dengan kehidupan seksnya. Bagi Cinta, judgement publik tak punya arti. Yang Ia yakini, seks adalah kesukaan semua orang. Keberadaan seks senada seirama dengan cinta kasih yang menjadi kodrat manusia.  Maka dari itu, baginya bermain seks tak pandang gender. “Kalau di Indonesia, laki-laki main seks dengan banyak wanita dibilang maskulin, kalau perempuan dianggap sampah, pelacur” ujarnya membela diri.

Tak berhenti disitu, Cinta lantas menuturkan berbagai pengalaman seks yang pernah dialaminya. Tanpa keraguan Ia membagi kisahnya saat melakukan threesome (hubungan seks tiga orang yang dilakukan secara bersamaan). Dengan menahan air mata, Cinta juga menceritakan kisah pahitnya saat dijadikan boneka seksual, diperkosa saat usia sembilan tahun, hingga  dua kali melakukan aborsi.

Di penghujung film, penonton disuguhkan dengan suasana damai keluarga besar Cinta yang bermukim di Bali. Keluarga adalah obat sekaligus penguat baginya. Terlebih sosok ibunda, yang mampu menjadi sahabat, tempat berbagi cerita apapun, termasuk soal seks. Bagi Cinta, keluarga bukan sekadar garis biologis, melainkan tempat pulang yang sesungguhnya. Dengan kata lain, keluarga adalah sumber kekuatan yang sengaja dicurahkan Tuhan untuknya.

Melalui ‘hUSh’, Djenar Maesa Ayu kembali memaparkan persoalan seks secara berani dan vulgar.  Terbukti, ‘hUSh’ cukup sering menampilkan adegan panas. Salah satunya, seperti adegan para bule yang tengah asyik ‘boat party’ di Gili TrawanganDalam segmen lain, Penonton bahkan dapat menyaksikan Cinta berenang tanpa sehelai ‘benang’ pun. Namun demikian, tak pelak ‘hUSh’ juga  menghadirkan amanat khusus. Djenar lagi-lagi membangkitkan kepedulian khalayak pada isu pelecehan dan kekerasan terhadap wanita. Djenar mungkin tak akan pernah jengah untuk terus mengangkat isu tentang seks. Dan melalui ‘hUSh’ pula, Ia tak akan membiarkan khalayak menjadi agnosia, belaga tak mengenali persoalan serius ini. Di sisi lain, ‘hUSh’, juga menjadi media bagi khalayak untuk mengetahui potongan gelap kehidupan yang mungkin luput. Nyatanya, tak sedikit yang mengapresiasi ‘hUSh’ dalam dunia perfilman tanah air. Dengan demikian, sayang rasanya untuk melewatkan begitu saja pesan yang disampaikan dalam film tersebut. ‘hUSh’ memang dihadirkan untuk tak sekadar disiakan, melainkan dicecapi dan diselami lebih jauh.

 

A Moment Capturer. Amateur Runner. Interest with Nature, Book, and Travelling.Loves coffee.

Lia Subekti

A Moment Capturer. Amateur Runner. Interest with Nature, Book, and Travelling.Loves coffee.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *