Kelana

Matur Suksma, Nusa Ceningan & Nusa Lembongan!

 “Travel brings power and love back into your life”

-Jalaluddin Rumi-

Tak terasa, enam pekan sudah saya melalui ibadah on the job training di ibukota. Dengan demikian, genap enam pekan pula saya bercumbu dengan ganasnya keramaian Jakarta. Mendengar seringai klakson mobil hingga melihat pengendara yang serampangan, membuat saya jadi ingin piknik. Nampaknya, saya rindu lagi pada Pulau Dewata.

Krasan menjadi semeton Singaraja selama satu bulan membuat saya selalu memikirkan kedamaian di Bali. Atmosfir ketenangan, kentalnya adat istiadat, hingga keramahan masyarakatnya membuat saya selalu ingin kembali. Dari sekian banyak perjalanan yang saya alami di Bali, ada satu memori epic yang sampai saat ini masih saya ingat. Memori yang saya dapat dari Pulau Nusa Ceningan dan Nusa Lembongan. Perjalanan tak terencana yang membawa banyak kesan dan pesan.

Sedikit cerita, perjalanan ke Pulau Nusa Ceningan dan Nusa Lembongan adalah buah kegalauan saya bersama seorang kawan yang juga dari perantauan. Waktu PKL makin menyusut, sementara piknik dirasa masih kurang. Tak peduli kantong yang kian menipis, kami pun memutuskan untuk menjelajah ala kadarnya ke dua pulau yang berlokasi di Kabupaten Klungkung tersebut. Sejujurnya kami memasukkan Pulau Nusa Penida kedalam wishlist , namun apa daya budget tak sampai.

Pagi-pagi, saya memulai perjalanan dari Terminal Sangket, Singaraja menuju Terminal Ubung, Denpasar. Butuh waktu dua jam bagi saya untuk “turun gunung”. Maklum, Singaraja berada di Bali Utara, sedangkan Denpasar di sebelah Selatan. Sekadar info, saya menumpang mobil elf berwarna coklat dengan tarif Rp. 40.000 untuk sekali jalan. Sesampainya di Denpasar, saya segera memesan taksi online menuju Pantai Sanur. Dari hasil ilmu sok tahu saya, rute singkat menuju Nusa Lembongan dapat ditempuh dengan kapal cepat dari Pantai Sanur. Saya dan kawan pun segera memesan tiket kapal cepat seharga Rp 75.000 untuk tiap orang. Entah mahal atau tidak, agen tiket inilah yang yang paling murah dari semua agenyang saya interogasi. Tepat pukul 13.00, kapal cepat membawa kami menuju Nusa Lembongan.

Welcome to Nusa Lembongan!

Setelah melalui perjalanan yang menggoyang isi perut, akhirnya tibalah kami di Mushroom beach, Nusa Lembongan. Hamparan laut biru dan pasir putih langsung menyambut di depan mata. Mabuk laut saya selama setengah jam langsung hilang seketika. Waktu baru menunjukan pukul 13.30, masih bisa memuaskan hasrat akan pemandangan, pikir saya. Saya dan kawan pun sepakat untuk menyewa sebuah motor dengan tarif Rp. 50.000 untuk 24 jam. Setelah kunci motor di tangan, perjalanan menjelajah Nusa Lembongan dimulai. Saya memulai perjalanan dari Bukit Panorama. Dari sana saya dapat menyaksikan Dream beach yang sejauh mata memandang dipenuhi wisatawan asing. Udara siang itu cukup terik, membuat saya sulit menikmati pemandangan yang ada. Sedikit menjauh, saya pun mencoba merasakan sensasi Devil’s tears bay. 

Devil’s tears bay

 Devil’s tears bay adalah spot deburan ombak yang jika terkena sinar matahari akan membentuk pelangi. Ombak yang begitu atraktif, sangat menarik dijadikan background berfoto. Tak lama saya segera menuju ke Jungut Batu beach. Dari Jungut Batu, sejatinya kita dapat melihat pemandangan pantai berlatarkan Gunung Agung. Di sini ombak cukup tenang, hanya ada sekumpulan kapal nelayan rumput laut yang diparkir begitu saja.

Jungut Batu Beach

Hari kian beranjak sore, saya dan kawan meneruskan perjalanan mecari pantai-pantai rahasia yang jarang dikunjungi wisatawan. Kami pun meneruskan perjalanan menuju Pulau Nusa Ceningan. Nusa Ceningan dan Nusa Lembongan dihubungkan oleh sebuah jembatan berwarna kuning.

Yellow Bridge di Nusa Ceningan

 

Jembatan ini cukup terkenal di antara para wisatawan. Bahkan turut menjadi salah satu ikon foto yang popular. Saya dan kawan lantas memutuskan untuk mencari tempat makan dan sholat di Nusa Ceningan. Perlu diketahui, bahwa tak satupun masjid kami temui di Pulau tersebut. Kami pun memutuskan untuk beristirahat di sebuah warung kecil bernama Warung Kandel.

Warung Kandel, my life saviour

Setelah melepas dahaga, kami kembali ke Nusa Lembongan dan tiba di sandy beach. Di mata saya, Sandy beach adalah pantai yang seakan sudah diprivatisasi oleh hotel tertentu. Hanya penghuni hotel yang dapat menikmati keindahan ombak sandy beach karena lokasi hotel yang memblok akses jalan menuju pantai. Beruntung, dengan segala percaya diri yang ada, saya dan kawan mampu menembus akses hotel. Alhasil, kami dapat menikmati cakrawala senja yang indah dari pinggir sandy beach. Sungguh indah kreasi Tuhan, sore itu.

Hari mulai beranjak gelap. Saya dan kawan segera beranjak dari Sandy beach untuk menumpang sholat di Warung Kandel, Nusa Ceningan. Disinilah hal epik mulai terjadi. Kekonyolan saya sebagai “nekad traveler” membuat saya tak memesan tempat menginap biarpun hanya semalam. Buat saya, apa salahnya menumpang di rumah warga. Dan hal itu pun benar terjadi. Sang pemilik Warung Kandel, sebut saja Pak Putu mengijinkan saya dan kawan untuk tidur di rumah anaknya, Bli Kadek. Bli Kadek ini terbilang berhasil, di usia yang baru menginjak 23 tahun sudah mampu membuat rumah sendiri. Sedikit berbincang, Bli Kadek rupanya bekerja di salah satu resort di Nusa Ceningan sejak lulus SMK. Tanpa malu, saya dan kawan pun menumpang tidur di rumah Bli Kadek.

Keesokan harinya, saya berencana menyudahi perjalanan di Nusa Ceningan dan Kembali ke Denpasar. Sebelum berangkat, lagi-lagi kami menumpang sholat subuh dan mandi di Warung Kandel. Sungguh, tak bisa dijadikan cerminan wisatawan yang baik. Tak berapa lama, Bli Kadek berpamitan dengan kami. Rupanya ia mendapat shift pagi di resort tempatnya bekerja. Dengan berat hati kami menyudahi obrolan kami dengan Bli Kadek, bahkan sampai belum sempat berfoto.

Sebelum kembali ke Denpasar, saya sempat berbincang dengan Pak Putu tentang kondisi Pulau Nusa Ceningan dan masyarakat sekitar. Menurut beliau, Pulau Nusa Ceningan kini jauh berbeda. Usaha budi daya rumput laut Nusa Ceningan tak sedigdaya dahulu. Banyak factor yang kemudian membuat petani rumput laut mulai meninggalkan pekerjaannya. Keuntungan yang kian menurun menjadi salah satun penyebabnya. Banyak dari mereka yang kini beralih ke bisnis pariwisata. Ada yang mengembangkan usaha transportasi, akomodasi, hingga kuliner kecil-kecilan. Di sisi lain, akses air bersih di Nusa Ceningan juga tak bisa dibilang baik. Saya sendiri merasakan hal tersebut. Selama ini, masyarakat sekitar hanya bergantung dari air bantuan pemerintah yang kadang lancar tetapi lebih sering macet. Di sisi lain, setidaknya mereka menunggu berkah hujan turun dari Tuhan. Air bersih memang menjadi sesuatu yang mewah bagi Masyarakat Nusa Ceningan. Cukup kontras dengan kondisi resort-resort yang berdiri tegak di sekitarnya.

Pembicaraan saya dan Pak Putu pun berujung pada kebaikan beliau untuk memesankan tiket kapal cepat kami ke Pantai Sanur. “Bilang saja, atas nama saya yang pesankan, supaya kalian dapat harga lokal” ujar Pak Putu. Benar saja, kami cukup membayar Rp. 50.000 untuk tiap orang. Lebih murah Rp 25.000 dari tiket berangkat kami. Setelah berpamitan, dan mengembalikan motor, kami segera bergegas menuju kapal cepat yang siap membawa kami menuju Pantai Sanur. Sejujurnya, banyak spot bagus yang belum kami jamah. Hutan mangrove, beberapa goa, pura-pura, dan spot snorkeling belum tersentuh sama sekali. Kami baru mengulik kulit Pulau Nusa Ceningan dan Nusa Lembongan saja. Parahnya lagi, Angel’s Billabong di Nusa Penida urung pula dikunjungi. Namun demikian, ada perasaan senang yang mencuat dalam hati kecil saya. Saya jadi tahu kondisi masyarakat sekitar yang sebenarnya. Saya pun menemukan keunikan-keunikkan yang tak pernah terlihat sebelumnya. Baru di Nusa Ceningan lah saya menemukan, wanita membawa galon di kepala. Unbelieveble, bray! Di luar dari pada itu, baik Nusa Ceningan maupun Nusa Lembongan memang masih perlu perhatian lebih dari pemerintah daerah. Baik dari segi sarana dan prasarana yang menunjang pariwisatanya. Satu hal lagi, tarif pariwisata yang tinggi, saya rasa menjadi sebab mengapa wisatawan asing lebih menjamur daripada wisatawan domestic. Mungkin, ada daya dan upaya pemerintah yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal ini pula.

Yang pasti, saya tetap memasukkan Nusa Ceningan, Nusa Lembongan, dan Nusa Penida dalam wishlist travelling 2017. Bagi saya, Pulau Dewata adalah salah satu tlatah untuk menjauh dari hingar bingar keramaian yang makin membuat galau. Menggantikan rasa rindu dengan kedamaian yang sulit didapat di ibukota. Pulau Dewata ibarat obat untuk menghilangkan ambivalensi yang terbilang cukup naïf. Lama kelamaan, saya jadi ingin ditempatkan di KPKNL Singaraja atau Denpasar. Mungkin Tuhan punya rencana, ataukah saya boleh menawar? Dikabulkan kelak atau tidak, tetap saya harus mengucap matur suksma, Nusa Ceningan & Nusa Lembongan!

A Moment Capturer. Amateur Runner. Interest with Nature, Book, and Travelling.Loves coffee.

Lia Subekti

A Moment Capturer. Amateur Runner. Interest with Nature, Book, and Travelling.Loves coffee.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *